Sekolah Rakyat Jadi Solusi, Pemulung Bantar Gebang Harap Anak Tak Wariskan Kemiskinan

Read Time:1 Minute, 51 Second

Bekasi — Di tengah tumpukan sampah Bantar Gebang, Rahmat menaruh satu harapan besar untuk masa depan anaknya. Lelaki yang bekerja sebagai pemulung itu tak ingin putrinya, Alfi Rahma, bernasib serupa seperti dirinya. Harapan itu kini tumbuh lewat Sekolah Rakyat, tempat Alfi belajar dan tinggal di asrama secara gratis, sebagai bagian dari upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan.

“Alfi pengen jadi Polwan. Semoga cita-citanya terkabul. Minimal anak saya bisa mencicipi pendidikan yang setara,” kata Rahmat di rumahnya di kawasan Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi, Rabu (22/10). Sehari-hari, Rahmat bekerja sebagai pemulung sampah plastik di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Harapan Rahmat ini sejalan dengan tujuan Sekolah Rakyat, yang termasuk dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden RI Prabowo Subianto, yakni untuk memutus rantai kemiskinan. Dengan pendidikan, Presiden berharap kemiskinan tidak diwariskan.

“Dengan adanya Sekolah Rakyat, Alhamdulillah saya merasa dipedulikan oleh pemerintah. Program ini sangat membantu,” ujarnya.

Ia berharap program ini terus berjalan sehingga anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem bisa bersekolah secara gratis, termasuk asrama dan makan yang ditanggung pemerintah.

“Jangan sampai anak-anak itu kayak orang tuanya. Nasibnya kayak model begini. Untuk Alfi, doa terbaik mudah-mudahan sehat selalu, bertahan di sana (Sekolah Rakyat) terus bisa menyerap pelajaran,” kata Rahmat.

Sudah lebih dari tiga bulan Alfi, siswi kelas X, bersekolah dan tinggal di asrama SRMA 13 Bekasi. Menurut Rahmat, sudah banyak kemajuan yang didapat putrinya. Kini Alfi lebih disiplin dan lebih sopan kepada orang tua.

Ia menceritakan, pihak sekolah, baik guru maupun wali asrama, selalu menginformasikan segala perkembangan anaknya. Komunikasi antara pihak sekolah dan wali murid terus dibangun.

“Perkembangan sekecil apapun disampaikan kepada orang tua. Diberitahukan oleh wali asrama maupun guru. Malah laporan mata pelajaran disampaikan secara detail,” ujarnya.

Rahmat mengaku mendukung apa pun yang diinginkan anaknya, apakah melanjutkan kuliah atau langsung bekerja.

“Kayaknya setelah lulus dia pengen langsung kerja, pengen bantu orang tua kali. Tapi saya enggak memaksa. Terserah dia. Kalau mau lanjut kuliah, pihak sekolah juga memfasilitasi. Kalau mau kerja, monggo. Saya ikut saja,” jelasnya.

Yang pasti, kata Rahmat, ia mendukung apa pun cita-cita putrinya selama itu membuat masa depannya lebih cemerlang, termasuk cita-citanya menjadi Polwan.

“Kalau dia cita-citanya pengen jadi Polwan, Bapak dukung. Dukung banget,” tutupnya.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Bisa Makan 3 Kali Sehari, Kini Alfi Anak Pemulung Nikmati Hidup Layak di Sekolah Rakyat

Read Time:2 Minute, 5 Second

Bekasi — Hidup Alfia Rahma (15) kini jauh lebih layak dibanding sebelumnya. Siswi kelas 1 Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi ini bisa makan tiga kali sehari dengan lauk bergizi dan beragam, sesuatu yang dulu sulit ia rasakan di rumahnya di kawasan Sumur Batu, Bantar Gebang.

“Kalau di rumah, makannya dua kali sehari, itu pun sedikit. Lauknya paling sayur sawi bening, tempe, atau ikan,” tutur Alfi saat ditemui di Bekasi pekan ini.

Ia menceritakan itu pun ia harus berbagi porsi dengan ayah, ibu, kakak, dan adik perempuannya yang masih duduk di kelas 2 SD.

Kini, di asrama Sekolah Rakyat, Alfi tidak hanya bisa makan cukup, tapi juga belajar dengan nyaman. “Alfi sekarang punya harapan untuk menggapai cita-cita dan semoga bisa mengubah kehidupan keluarga ke depan. Terima kasih, Bapak Presiden Prabowo. Di sini, Alfi akan berjuang dan belajar sungguh-sungguh,” ujarnya.

Alfi adalah anak dari pasangan pemulung yang bekerja di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Ia bertekad mengangkat martabat keluarganya lewat pendidikan. “Alfi akan berjuang untuk emak dan bapak. Supaya bapak dan ibu bisa lihat Alfi pakai seragam Polwan atau bisa kuliah setinggi-tingginya,” katanya.

Cita-citanya sederhana namun mulia. Ia ingin menjadi polisi wanita (Polwan) atau prajurit wanita (Kowad) agar bisa menjadi abdi negara dan membanggakan keluarga. “Saya mau jadi Polwan pertama di keluarga saya,” ucapnya tegas. Ia tak ingin bernasib sama seperti kakaknya yang putus sekolah di kelas 6 SD dan kini membantu orang tua memulung di TPST Bantar Gebang.

Sekolah Rakyat merupakan program yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini diluncurkan resmi pada 14 Juli 2025, menyediakan pendidikan gratis berasrama setara SD, SMP, dan SMA. Seluruh biaya, termasuk kebutuhan sekolah dan makan, ditanggung pemerintah.

Di SRMA 13 Bekasi, Alfi bersama ratusan anak dari keluarga tidak mampu digembleng pendidikan dan karakternya agar mampu mengangkat derajat orang tua mereka dan memutus rantai kemiskinan.

Alfi dan keluarganya tinggal di rumah bedeng dekat TPST Bantar Gebang. Dindingnya dari triplek bekas, lantainya tanah, sebagian ditutup spanduk usang untuk menahan angin, dan ketika hujan, air menetes dari atap yang bocor. Sejak kecil, Alfi tumbuh di lingkungan itu. Ia sempat bersekolah di PKBM Al Falah, Sumur Batu — yayasan yang memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak pemulung, dari PAUD hingga Paket A, B, dan C.

Kini, lewat Sekolah Rakyat, Alfi memulai babak baru dalam hidupnya. Ia bukan hanya bisa makan tiga kali sehari, tetapi juga menatap masa depan dengan penuh semangat dan harapan.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Guru Muda Lulusan Australia Mengajar di Sekolah Rakyat: Program Ini Tepat Sasaran

Read Time:1 Minute, 52 Second

Bekasi — Keputusan Rifki Nurwan Aziz, lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang melanjutkan studi ke Australia, untuk kembali ke Tanah Air dan mengajar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, berawal dari keinginannya berkontribusi langsung pada program Presiden RI Prabowo Subianto. Ia yakin, pendidikan yang merata adalah kunci memutus rantai kemiskinan.

“Program dari Pak Presiden ini punya tujuan besar: memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan. Saya ingin menjadi bagian dari perjuangan itu — memberikan motivasi dan semangat agar anak-anak bisa percaya diri dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Rifki saat ditemui di Kompleks Sentra Terpadu Pangudi Luhur, Bekasi, pekan ini.

Setelah lebih dari tiga bulan mengajar, Rifki mulai melihat perubahan besar pada murid-muridnya yang mayoritas berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Anak-anak yang dulu pemalu dan enggan berbaur kini lebih percaya diri, aktif bertanya, serta berani tampil di depan kelas.

“Pertama kali melihat anak-anak, mereka itu seperti tidak ada harapan untuk bisa berkembang — malu-malu dan sulit berbaur. Tapi dengan berjalannya waktu, Alhamdulillah anak-anak sekarang menjadi percaya diri,” ungkap guru yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah SRMA 13 Bekasi itu.

Ia menuturkan, para siswa kini mulai menemukan minat dan bakat mereka. Ada yang aktif di paduan suara, paskibra, hingga olahraga pencak silat.

“Dulu mereka membisu, tidak ada kreativitas. Sekarang senyumnya mulai lebar, semangat belajarnya tumbuh. Karena ekonomi bukan lagi halangan untuk mereka bisa mencapai cita-cita,” tambah Rifki, yang mengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).

Menurutnya, program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo memang tepat sasaran. Program ini tidak hanya memberi kesempatan belajar bagi anak-anak miskin, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan harapan baru bagi mereka.

Para guru, kata Rifki, berusaha menggali potensi siswa sekaligus memberikan tantangan agar mereka belajar dengan nyaman dan bersemangat. Hasilnya pun menggembirakan: kelompok paduan suara SRMA 13 Bekasi sempat tampil di Istana Negara saat upacara HUT ke-80 Republik Indonesia beberapa waktu lalu.

Ia juga mengaku terharu melihat semangat siswa-siswi dari keluarga pemulung yang memiliki cita-cita tinggi. Salah satunya Jumaro, siswa kelas 1E.

“Jumaro ingin menjadi biologis. Dia bercita-cita kuliah di IPB untuk belajar cara membuat lingkungan Bantar Gebang lebih bersih dan wangi. Katanya, ‘Sekarang baunya menyengat sekali, saya ingin sekolah tinggi supaya bisa memperbaikinya,’” tuturnya.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Ibu-Ibu Jadi Pahlawan Gizi: Brasil Kagum pada Peran Perempuan dalam Program MBG Indonesia

Read Time:1 Minute, 7 Second

Jakarta — Kunjungan Ibu Negara Brasil Janja Da Silva ke Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Halim, Jakarta menjadi momen penting pertukaran pengalaman antara Indonesia dan Brasil dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam kunjungan tersebut, Janja Silva menyampaikan kekagumannya terhadap pelibatan aktif perempuan dan komunitas lokal dalam pelaksanaan MBG di Indonesia.

Ia menilai pendekatan berbasis masyarakat dan pemberdayaan ibu-ibu di dapur serta UMKM merupakan kunci keberhasilan program gizi berkelanjutan.

“Karena mereka yang memasak itu ibu-ibu semua dan yang tahu ibu-ibu itu yang tahu anak-anak itu suka apa. Apa kebutuhan perempuan,” kata Nani Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan di Halim, Jakarta, Jumat (24/10).

Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa peran perempuan juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan school meal program yang diberlakukan di negara itu.

Kemiripan tersebut memperkuat semangat kerja sama kedua negara dalam membangun sistem pangan sehat yang tidak hanya menyehatkan anak tetapi juga menghidupkan ekonomi lokal daerah setempat.

“Jadi ekonomi lokalnya juga harus digabungkan. Jadi ini dengan Brasil yang menarik juga sebenarnya karena Brasil sudah lama dan juga ada yang disebut program global, ya, school meal coalition program,” imbuhnya.

Kunjungan ini selain didampingi oleh Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan Nani Hendiarti juga oleh Juru Bicara Badan Gizi Nasional (BGN) Dian Fatwa dan Staf Khusus Menko Pangan Bidang Kebijakan Strategis Meizani Irmadhiany.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Ibu Negara Brasil Puji Kecepatan dan Skala Program Makan Bergizi Gratis Indonesia

Read Time:1 Minute, 42 Second

Jakarta — Ibu Negara Brasil Janja Lula da Silva memuji dan mengapresiasi kecepatan dan skala program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Janja terkesan dengan Indonesia yang sudah bisa mendistribusikan MBG untuk sekitar 30 juta orang dalam waktu hanya 10 bulan. Menurutnya capaian monumental itu lebih cepat dari Brasil.

“Ibu negara cukup impressed dengan karena kita baru memulainya 10 bulan. Mereka sudah mencapai dalam sejak tahun 1955 mereka baru mencapai 40 juta. Kami baru 10 bulan sudah mampu memberikan benefit kepada lebih dari 30 juta anak belum terhitung dengan ibu-ibu hamil dan juga anak di bawah 5 tahun. Jadi ibu negara cukup impressed dengan apa yang sudah kami capai dalam 10 bulan,” ujar Jubir Badan Gizi Nasional (BGN) Dian Fatwa usai mendampingi Ibu Negara Brasil meninjau langsung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Sekolah Dasar (SD) Angkasa 05 Halim di Jakarta pada Jumat (24/10).

Kendati demikian, Dian secara terbuka mengakui bahwa pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya tanpa kekurangan “Walaupun beliau juga cukup paham tentu dalam perjalanannya, tentu tidak semulus yang kita bayangkan awal tapi mereka cukup impressed, 10 bulan sudah mencapai 37 dan kita sebetulnya 3 juta away dari mereka karena mereka sudah dari 7 dekade baru mencapai 40 juta,” ungkapnya.

Selain itu, Dian mengatakan Ibu Negara Janja juga memberikan sejumlah saran kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menjalankan program MBG. Beberapa saran tersebut antara lain seperti memberdayakan hasil pertanian lokal sebagai sumber bahan utama dan membuat sistem dapur di sekolah.

“Partnership dengan farmer, dengan petani, dengan masyarakat di sini, kita sudah mulai dan ini akan growing secara keseluruhan,” pungkasnya.

“Sebetulnya sempat menanyakan (dapur di sekolah) karena mereka melakukannya seperti itu. Nah kami akan melakukannya itu nanti di daerah terpencil, daerah 3T (tertinggal, terdepan, terpencil),” tambahnya.

Dalam kunjungannya di Halim, Ibu Negara Brasil Janja turut didampingi oleh Plh Sestama Badan Gizi Nasional (BGN) Lili Khamiliyah, Jubir BGN Dian Fatwa, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan Nani Hendiarti. Kemudian ada Stafsus Menko Pangan Bidang Kebijakan Strategis Meizani Irmadhiany dan TA Menko Bidang Pangan Lula Kamal.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Indonesia Diundang ke COP30, MBG Diakui Dunia sebagai Praktik Baik Ketahanan Gizi dan Iklim

Read Time:1 Minute, 31 Second

Jakarta – Ibu Negara Brasil, Janja Lula da Silva, secara resmi mengundang Indonesia untuk menghadiri Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30) yang akan digelar di Belem, Brasil.

Brasil menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu praktik baik dunia dalam memperkuat ketahanan gizi sekaligus mendukung agenda ketahanan iklim global.

Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Nani Hendiarti, mengatakan bahwa Ibu Negara Brasil juga mengundang Indonesia untuk mempelajari penerapan teknologi ramah lingkungan yang digunakan dalam program School Meal Global di Brasil.

“Ibu negara tadi mengundang karena akan ada COP30 di Belem. Beliau mengundang kita untuk meninjau fasilitas dan program yang mereka sudah jalankan,” kata Nani usai mendampingi Janja meninjau Sentra Produksi Pangan dan Gizi (SPPG) di Halim, Jakarta Timur, Jumat (24/10).

Nani menjelaskan, tim dari Badan Gizi Nasional (BGN) nantinya akan berkesempatan melihat langsung beragam teknologi yang dikembangkan Brasil, termasuk biodigester untuk pengembangan energi terbarukan dalam proses memasak.

“Program school meal di sekolah ini juga bisa mendorong lahirnya teknologi dan ekosistem baru, bukan hanya yang berdampak langsung, tapi juga untuk pengembangan teknologi masa depan dalam mengatasi perubahan iklim. Jadi, green,” jelasnya.

Selain itu, kata Nani, Ibu Negara Brasil juga memberikan sejumlah masukan terkait pelaksanaan program MBG, terutama dalam hal pemilihan bahan baku. Di Brasil, penggunaan bahan baku lokal bahkan telah diatur dalam undang-undang.

“Langkah ini menghindari waktu yang terlalu lama hingga bahan sampai di dapur, sehingga kondisinya tetap segar dan kualitasnya terjaga,” ujarnya.

Nani menambahkan, prinsip serupa sebenarnya telah diterapkan di hampir seluruh dapur pelaksana program MBG, termasuk di SPPG Halim. Ia menegaskan, keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan program MBG.

“Anak-anak yang menerima makanan dari program MBG ini mendapatkannya dalam kondisi segar dan aman. Jarak tempuh dari dapur ke sekolah tidak lebih dari 15 menit, dan makanan langsung dikonsumsi oleh siswa,” tutupnya.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Momen Ibu Negara Brasil Intip hingga Cicipi Hasil Masakan Dapur MBG di Halim

Read Time:1 Minute, 19 Second

Jakarta — Ibu Negara Brasil Janja Da Silva melakukan kunjungan ke Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Halim, Jakarta, untuk meninjau langsung pelaksanaan Program Makan Bergizi (MBG) yang dijalankan pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto.

Janja Silva hadir di SPPG Halim pada pukul 10:00 WIB disambut dengan hangat oleh Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan Nani Hendiarti, Juru Bicara Badan Gizi Nasional (BGN) Dian Fatwa dan Staf Khusus Menko Pangan Bidang Kebijakan Strategis Meizani Irmadhiany.

“Kami merasa sangat terhormat atas kunjungan Ibu Negara Brazil beserta delegasi ke SPPG Halim Perdana Kusuma 1. Kunjungan ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan sistem penyediaan pangan bergizi yang dijalankan di Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis,” kata Okky Dwika Setyawan, Kepala SPPG Halim Perdana Kusuma 1.

Dalam kunjungan itu, Janja Silva tidak hanya melihat proses pengolahan makanan di dapur akan tetapi juga sempat mencicipi hasil masakan dari dapur MBG yang setiap harinya menyuplai makanan bergizi ke sekolah-sekolah di sekitar Halim.

“Setiap harinya, kami menyiapkan 3.837 porsi makanan bergizi untuk anak-anak sekolah dasar dan menengah di wilayah sekitar Halim. Ibu Negara Brasil tampak antusias melihat langsung proses pengolahan makanan di dapur SPPG, mulai dari persiapan bahan, pengemasan, hingga pendistribusian,” lanjutnya.

Adapun, setelah meninjau proses tersebut, Janja Silva menuju salah satu sekolah penerima manfaat yaitu SD Angkasa 5 guna melihat secara langsung bagaimana Makan Bergizi Gratis tersebut diterima dan dinikmati oleh anak-anak di sekolah.

Kedatangan Janja Silva di sekolah juga disambut antusias oleh anak-anak di sekolah hingga berlangsung momen interaksi bersama para siswa-siswi juga berlangsung hangat dan penuh keceriaan.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Indonesia Diundang ke COP30, MBG Diakui Dunia sebagai Praktik Baik Ketahanan Gizi dan Iklim

Read Time:1 Minute, 34 Second

Jakarta – Ibu Negara Brasil, Janja Lula da Silva, secara resmi mengundang Indonesia untuk menghadiri Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30) yang akan digelar di Belem, Brasil.

Brasil menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu praktik baik dunia dalam memperkuat ketahanan gizi sekaligus mendukung agenda ketahanan iklim global.

Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Nani Hendiarti, mengatakan bahwa Ibu Negara Brasil juga mengundang Indonesia untuk mempelajari penerapan teknologi ramah lingkungan yang digunakan dalam program School Meal Global di Brasil.

“Ibu negara tadi mengundang karena akan ada COP30 di Belem. Beliau mengundang kita untuk meninjau fasilitas dan program yang mereka sudah jalankan,” kata Nani usai mendampingi Janja meninjau Sentra Produksi Pangan dan Gizi (SPPG) di Halim, Jakarta Timur, Jumat (24/10).

Staf Khusus Menko Pangan Bidang Kebijakan Strategis, Meizani Irmadhiany mengatakan, tim dari Badan Gizi Nasional (BGN) nantinya akan berkesempatan melihat langsung beragam teknologi yang dikembangkan Brasil, termasuk biodigester untuk pengembangan energi terbarukan dalam proses memasak.

“Program school meal di sekolah ini juga bisa mendorong lahirnya teknologi dan ekosistem baru, bukan hanya yang berdampak langsung, tapi juga untuk pengembangan teknologi masa depan dalam mengatasi perubahan iklim. Jadi, green,” jelasnya.

Selain itu, Ibu Negara Brasil juga memberikan sejumlah masukan terkait pelaksanaan program MBG, terutama dalam hal pemilihan bahan baku. Di Brasil, penggunaan bahan baku lokal bahkan telah diatur dalam undang-undang.

“Langkah ini menghindari waktu yang terlalu lama hingga bahan sampai di dapur, sehingga kondisinya tetap segar dan kualitasnya terjaga,” ujar juru bicara BGN, Dian Fatwa.

Ia menambahkan, prinsip serupa sebenarnya telah diterapkan di hampir seluruh dapur pelaksana program MBG, termasuk di SPPG Halim. Ia menegaskan, keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan program MBG.

“Anak-anak yang menerima makanan dari program MBG ini mendapatkannya dalam kondisi segar dan aman. Jarak tempuh dari dapur ke sekolah tidak lebih dari 15 menit, dan makanan langsung dikonsumsi oleh siswa,” tutupnya.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Program MBG Indonesia Jadi Inspirasi, Brasil Terkesan dengan Standar Keamanan dan Keterlibatan UMKM Lokal

Read Time:2 Minute, 17 Second

Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto tidak hanya menyentuh jutaan anak Indonesia, tetapi juga menginspirasi dunia. Ibu Negara Brasil, Janja Lula da Silva, meninjau langsung Dapur Sentra Pangan dan Pemberdayaan Gizi (SPPG) Halim Jumat (24/10), untuk melihat dari dekat bagaimana Indonesia menjalankan program yang baru berusia 10 bulan ini.

Kehadirannya bukan sekadar seremonial. Brasil telah memiliki tradisi panjang dalam program makanan bergizi di sekolah sejak 1955, yang baru resmi diundangkan pada 2009 sementara pemerintah Indonesia memulai kurang dari setahun.

“Kita baru memulainya 10 bulan. Mereka sudah mencapai dalam sejak tahun 1955 mereka baru mencapai 40 juta. Kami baru 10 bulan sudah mampu memberikan benefit kepada lebih dari 30 juta anak belum terhitung dengan ibu-ibu hamil dan juga anak di bawah 5 tahun,” ungkap Jubir Badan Gizi Nasional (BGN), Dian Fatwa.

Menurut Dian, perbandingan ini membuat Brasil kagum pada lompatan cepat Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Apalagi dalam waktu 10 bulan MBG Indonesia sudah mencapai 37 juta penerima, hanya selisih 3 juta dari Brasil yang sudah berjalan puluhan tahun.

“Jadi ibu negara cukup impressed dengan apa yang sudah kami capai dalam 10 bulan. Walaupun beliau juga cukup paham tentu dalam perjalanannya tentu tidak semulus yang kita bayangkan awal tapi mereka cukup impressed. 10 bulan sudah mencapai 37 dan kita sebetulnya 3 juta away dari mereka karena mereka sudah dari 7 dekade baru mencapai 40 juta,” tambahnya.

Ibu Negara Brasil, kata Dian, terkesan dengan cara Indonesia mengintegrasikan program MBG dengan ekonomi lokal dan UMKM. Salah satu aturan utama di Brasil adalah bahan baku harus dibeli dari petani dan produsen lokal.

Dian mengatakan masyarakat sekitar Halim bahkan sudah mulai menanam jagung, cabai, dan pepaya untuk menyuplai dapur MBG. Meski masih tahap awal, kerja sama dengan petani dan UMKM lokal diyakini akan terus berkembang.

“UMKM kita juga sama-sama melakukan hal yang sama karena untuk dapur disini mereka untuk produksi keripik tempe untuk produksi juga roti, untuk tempe segar juga mereka mengambil dari ibu-ibu yang ada disekitar sini jadi semuanya diproduksi secara lokal untuk bahan-bahan tertentu dan kita pastikan partisipasi dari masyarakat disini saat ini untuk di daerah Halim, mereka sedang memulai untuk menanam jagung, cabai, jagung, cabai dan pepaya,” pungkasnya.

Di Dapur SPPG Halim misalnya, bahan baku seperti sayur, tempe, hingga roti dipasok dari UMKM dan ibu-ibu sekitar. Bahkan ada yang mulai menanam cabai, jagung, dan pepaya untuk menyuplai dapur MBG. Selain soal ekosistem ekonomi, keamanan pangan (food safety) juga jadi perhatian utama. MBG memastikan setiap makanan yang disajikan aman dan sehat.

Kemudian sebelum makanan distribusikan ke sekolah, ada tes bakteri seperti E.coli, salmonella, hingga histamin. Selain itu, jarak distribusi diatur agar makanan tiba dalam kondisi hangat, maksimal 10–15 menit dari dapur ke anak-anak.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Etanol dari Singkong dan Jagung, Strategi Baru Pemerintah Dongkrak Ekonomi Petani Lokal

Read Time:1 Minute, 45 Second

Jakarta — Pemerintah tengah menyiapkan strategi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan melalui pemanfaatan etanol dari singkong, jagung, dan tebu. Langkah ini bukan hanya bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, pemerintah akan mulai mendorong program campuran etanol pada bensin secara bertahap. Targetnya, Indonesia akan memasuki fase E10 (10% etanol) pada 2027, dan berlanjut hingga E20 (20% etanol).

“Di dunia, untuk Brasil, ini mereka sudah mencapai sampai E30 mandatory, bahkan di beberapa negara bagian sudah mencapai E100 (​​100% etanol). Nah, ke depan kita akan mendorong ini menjadi E20 tapi bertahap, E10 dulu. 2027–2028 sudah kita lakukan,” kata Bahlil kepada awak media di kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (24/10).

Pemerintah melihat kesuksesan transformasi energi berbasis biodiesel (B10–B40 dan B50) sebagai modal penting untuk melanjutkan inovasi di sektor bensin berbasis etanol. Dengan pengembangan ini, Indonesia tidak hanya berfokus pada kemandirian energi, tetapi juga memastikan transformasi ekonomi yang berpihak kepada petani.

“Selain untuk meningkatkan energi yang bersih, kita juga untuk mengurangi impor. Kesuksesan kita dalam transformasi B10 sampai dengan B40 yang B50, kita juga ingin ini terjadi di sektor bensin,” ucapnya

Ia menekankan, kebijakan ini akan memberi dampak ganda. Pertama, memperkuat komitmen pemerintah Prabowo dalam menghasilkan energi bersih dan ramah lingkungan. Kedua, membuka peluang ekonomi baru bagi petani singkong, jagung, dan tebu, yang menjadi sumber utama etanol.

“Kalau di biodiesel itu CPO (minyak sawit mentah) yang dipakai, maka di bensin itu adalah etanol. Di mana etanol ini sumbernya dari jagung, kemudian dari singkong, kemudian dari tebu. Dan ini sebagai strategi untuk meningkatkan pendapatan petani, hilirisasi di sektor perkebunan, dan juga menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi di daerah,” jelasnya.

Dengan skema ini, rantai produksi pertanian dipastikan akan memiliki pasar baru yang jelas. Petani singkong dan jagung yang selama ini terkendala fluktuasi harga akan mendapat kepastian pembeli.

Sementara itu, hilirisasi produk pertanian juga akan memicu tumbuhnya industri baru di tingkat lokal, mulai dari pabrik pengolahan etanol hingga ekosistem ekonomi daerah.

Lebih jauh, Bahlil menekankan bahwa keberhasilan program ini akan dirasakan langsung oleh masyarakat daerah, bukan hanya di pusat kota.


Warning: Attempt to read property "roles" on false in /www/wwwroot/berita.murungrayakab.go.id/wp-content/plugins/booster-extension/inc/frontend/author-box-shortcode.php on line 21

Kontributor Wartawan

Exit mobile version